Tampilkan postingan dengan label Sakinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sakinah. Tampilkan semua postingan
Browse » Home » Posts filed under Sakinah
Tiba-tiba
tak ada angina tak ada hujan,Aisyah mengganti tema pembicaraan.Sang istri
kecintaan Nabi bertanya,”duhai Rasul” dengan nada menggoda,”andaikata engakau
menjadi penggembala,kemudian di depan sana ada dua lembah,lembah yang pertama
ada banyak pohon tetapi sudah menjadi bekas dimakan hewan-hewan gembalaan milik
orang lain,sedangkan lembah yang kedua masih utuh belum ada satupun penggembala
yang dating kesana,engkau memilih yang mana?”
Nabi
tersenyum.”Jelasa aku akan memilih yang kedua,Aisy”ucap beliau,tak kalah
menggoda.Nabi mengerti arah pembicaraan sang Humaira.Kedua lembah itu adalah
sebuah metafora.Lembah pertama adalah para istri nabi yang statusnya adalah
janda.Sedangkan lembah yang kedua adalah Aisyah yang beliau nikahi dalam
keadaan masih gadis.
Namun
pilihan nabi bukan berarti menafikan para istri beliau yang lainnya.Beliau
tetap selalu adil kepada semua istrinya.Ini hanya masalah kecerdasan
emosional.Melihat maksud dibalik kata,kemudian menerjemahkannya dalam respon yang
tak merusak suasana.Beliau menyenangkan Aisyah.Bahasa dibalik kata.Amatlah
sering dilontarkan oleh kaum hawa.Tabiat kelembutan dan penuh perasaan,kadang
mereka bertutur tidak persis sama dengan apa yang dituturkan.Berusaha menjaga
tutur kata agar tak terlesan vulgar.Daripada laki-laki,mereka lebih sedikit
berkata secara langsung,”belikan aku sesuatu”,”cintai akau”,”haragi aku”atau
“ini malam jumat!”.
Bahasa
dibalik kata.Kalau tak cerdas memahaminya,bisa-bisa Anda dinilai sebagai
pribadi yang egois dan atak mau tahu.Tahu-tahu kita bingung ketika tiba-tiba
istri atau suami tiba-tiba ngambek,enggan diajak bicara.Dan menjadi makin
parah,ketika suami atau istri yang justru merasa disakiti.Selanjutnya dengan
emosi justru memarahi sikap diam pasangannya.
Kalu
da istilah “wanita ingin dimengerti”,berarti apakah ada yang banyak laki-laki
yang kesulitan mengerti wanita.Sebenarnya tidak sulit,hanya butuh kepekaan dan
kesediaan untuk memahami.Pengalaman di lapangan,sebagian besar kita punya
kemampuan merasakan apa ayng diinginkan pasanagan.Hatta keinginan untuk tak
terungkap secara verbal.
Suatu
ketika seorang istri tiba-tiba dating dan menunjukkan barang yang baru saja
dibeli tanpa pemberitahuan pada suami.Dia tunjukkan barang itu pada suami lalu
berkata,”Lihat barang ini urah sekali,aku dapat diskon”.Bisa saja suami melihat
barang tersebut tetap mahal dan mungkin saja tidak terlalu penting. Suami
sering tidak memahami maksud perkataan “ini barang murah” dari istri,sehingga
secara vulgar dia akan berlogika dan menjawab,:hah,segitu dibilang murah,ah,ya
mahal lah”. Duh, istri bakal kecewa dengan perkataan tersebut.
Sedang
bagi suami yang mau mengerti akan berbeda respon.Dia melihat pernyataan “lihat
barang ini murah” sebenarnya wujud kekhawatiran jangan-jangan suami tak suka
dengan pembelian barang tersebut. Bahasa dibalik kata itu mungkin bermaksud
menyatakan “aku tahu kamu tidak setuju”. Nah,suami yang bijaksana setidaknya
bisa menghargai istri yang “bersedia” khawatir.dan bisa memberi tanggapan yang
lebih solusif. Itu sedikit contoh,dan selain itu banyak lagi.Terkadang juga
ketika menginginkan sesuatu,pesan hanya disampaikan melalui perilaku.Yang ini
paling sering dalam urusan hubungan intim.Wanita,sepertinya “anti” untuk
memulai pembicaraan terhadap kebutuhan hubungan intim.Maka kita harus memahami
setiap “gelagat” itu.Sekali dua kali tidak peka mungkin tidak apa-apa. Tapi
bila berkali-kali akan menimbulkan masalah yang tak sepele. Bagi para
istri,biasakanlah untuk berterus terang. Kesalahpahaman suami menagkap pesan
justru akan merugikan diri sendiri.Misalkan,ada satu kalimat perintah yang
mungkin harus mulai dig anti karena tidak nyaman didengarkan. Sebagian istri
ketika meminta suaminya untuk melakukan sesuatu dia akan berkata dengan kalimat
Tanya,”kamu bisa pasang lampu itu?”, “apakah kamu bisa begini?”
Pertanyaan
itu tidak memberdayakan. Di telinga terkesan seperti sebuah kalimat
tantangan,Hampir-hampir menyerempet kesan meremehkan. Memang,maksud istri
menanyakan itu untuk mengkonfirmasi kesediaan. Tapi laki-laki lebih suka diakui
kemampuannya. Maka akan lebih membanggakan bagi mereka kalau kita
berkata,”tolong pasang lampu itu”, “tolong aku dibantu ini”. Sepertinya lebih
heroic.Dalam kalimat tersebut ada pengakuan bahwa saya (perempuan) lemah dan
kamu kuat”. Dan ini disukai oleh lelaki.
Kita
lihat sisi positifnya saja. Kebiasaan istri yang seperti itu sebenarnya menjadi
kesempatan bagi suami untuk mendapatkan apresiasi sebagai suami yang
pengertian. Kalau semua urusan disampaikan secara verbal dan kita
memenuhinya,itu sudah biasa. Yang luar biasa,bila kita bisa menagkap pesan
“tersembunyi” sang istri atau suami,kemudian berusaha mewujudkannya,akan
menjadi jalan semakin rekatnya kasih saying suami-istri. InsyaAllah
Browse » Home » Posts filed under Sakinah
Suatu saat saya
membaca sebuah majalah pernikahan.Salah satu rubiknya membahas curhat seorang
suami.Ceritanya seperti ini:
Sepasang suami
istri baru saja melaksanakan ijab qabul pernikahan dan menggelar walimah.Namun
disaat-saat yang seharusnya paling membahagiakan itu,terjadi masalah yang cukup
memperkeruh keadaan.Pasalnya saat bersanding di pelaminan,sang pengantin putri
keceplosan menceritakan mantan-mantannya satu per satu.Sontak sang suami merasa
kecewa dengan penuturan istrinya tersebut.Bisa kali sang istri cuma curhat
tentang sederet kegagalan hubungannya di masa lalu,atau bisa jadi si istri
ingin terlihat popular dengan menceritakan beberapa pria yang sempat menjalin
hubungan dengannya.baru hari pertama menikah,suami sudah jengah dengan sikap
istrinya.Hal ini cukup menghilangkan simpati sang suami.Hingga akhirnya malam
pertama mereka pun berlangsung hambar karena sang suami merasa tidak tertarik
pada istrinya.Sangat disayangkan.
Ya,sangat
disayangkan…
Betapa
sesungguhnya sangat penting menjaga perasaan pasangan kita.terkadang kita tidak
menyadari bahwa kat-kata dan sikap yang kita telah melukai hati pasangan.Dan
keadaan akan semakin runyam manakala kita tidak meminta maaf,serta pasangan
juga enggan untuk mengkomunikasikan.
Mengapa
beberapa dari kita sampai melakukan kesalahan berulang-ulang yang parahnya,kita
tidak pernah menyadarinya?
Jawabannya hanya satu,karena kita kurang memahami pasangan.Dan
memang memahami belahan jiwa itu bukan pekerjaan sebulan dua bulan,melainkan
pekerjaan seumur hidup.
Memahami
pasangan lebih dalam
Setiap manusia
lahir dengan keunikannya masing-masing.Dan setiap manusia juga memiliki
kerumitan yang khas.Begitupun dengan kita dan pasangan.Bisa jadi kita memiliki
pasangan yang karakternya bertolak belakang dengan kita.Saya sendiri yakin
tidak akan ada di dunia ini sepasang suami istri yang begitu ‘mirip’ dalam
segala hal.Pasti ada keunikan yang akan memberikan warna,perbedaan yang memang
ada untuk saling melengkapi.
Jika kita ingin
menjaga perasaan pasangan,tentu kita akan berusaha dahulu.Mencari tahu apa saja
yang disukai dan tidak disukainya.Tentunya butuh kesabaran yang luar biasa
untuk bisa melakukannya.Lakukanlah demi cinta dan menghapar ridha-Nya.
Apa yang
disampaikan Izzatul Jannah dalam buku Psiko Harmoni Rumah Tangga ini sangat
menarik.Mari kita simak:
Saya seorang ekstrovert yang sangat
romantis,mencintai seni,tak pernah setengah-setengah menjalani hidup,sedikit egosentris,self assertiveness, dan self
interest tinggi.Dipertemukan dengan seorang laki-laki yang introvert,matematis,sangat kaku,pemalu,low profile,group value tinggi.Kata seorang psikolog,suami saya
memiliki potensi mematikan kreativitas saya (tetapi setelah 12 tahun hidup
denagnnya,hipotesisnya tidak terbukti).Satu hal saja yang menyatukan kami :
aktivitas.
Ya, kami
sama-sama organisator dan inisiator di lembaga dakwah kampus.Itu saja!Lainnya
berbeda secara diametral. Saya sulit
menyesuaikan diri dengan suami saya saat itu,tentu saja.tetapi lihatlah,kami
bertahan bukan?
Saya tidak
pernah putus asa meski surat-surat cinta saya padanya,hanya sesekali mendapat
balasan. Puisi dan kata-kata cinta saya,tak pernah lapuk dan tua untuknya.
Meski ia hanya menanggapi dengan senyum dan tatap malu-malunya,saya tak kenal
lelah. Dan tahukah Anda,ia pun tak kalah tangguh,berusaha menyesuaikan diri
dengan ritme hidup saya yang cepat,naik turun,penuh konflik internal,dan kadang
acak-acakan.
Dua tahun
sekali saya pindah kerja,berpindah minat,berubah mood,kadang mencintai kadang
membenci,kadang lembut setengah mati,kadang tajam dan menyebalkan.Mungkin
mengasyikkan bagi orang yang setipe dengan saya,tetapi pasti melelahkan bagi
orang yang berbeda.Tetapi ia bertahan,hingga sekarang.Ya, Anda benar! Ia
mencintai saya,setengah mati.
Begitulah,mereka
begitu berbeda dalam segala hal. Tetapi mereka berjuang untuk saling
memahami.Mereka tidak menyerah untuk saling mengenal satu sama lain. Mereka
begitu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan pasangannya. Subhanallah,sebuah pernikahan barakah yang diniatkan untuk meraih
ridha Allah. Dan mereka pun bahagia,subhanallah..
Ungkapkan perasaanmu
Seringkali kita
memendam kekecewaan pada pasanagn tanpa berusaha mengkomunikasikannya.
Sedangkan kekecewaan itu bisa saja kita tekan untuk saat ini,namun saat kita
kembali merasa dikecewakan maka rasa sakit hati itu bisa semakin membekas dan
akan menjadi bom waktu di kemudian hari.
Meski
begitu,bukan berarti kita dibenarkan untuk menyalahkan dan menyudutkan pasangan
karena telah mengecewakan kita. Jadi
pilihlah waktu yang tepat untuk menyampaikannya,dan ungkapkan dengan
hati-hati.Sampaikanlah kekecewaan kita dan harapan kita agar pasangan mau
mengerti dan tidak mengulanginya kembali.
Namun jika
pasangan sedemikian introvertnya hingga tak mau mengungkapkan perasaannya,maka
kita harus lebih peka saat pasangan terlihat terluka karena kita.dan berusaha
untuk mencari tahu apa yang telah melukai hatinya serta jangan segan meminta
maaf.
Berikut ini ada
beberapa tips dari Izzatul Jannah untuk mengkomunikasikan perasaan pada
pasangan :
1. Lihatlah
tanda non verbal dari pasangan,bisa
berupa : diam tanpa alasan,penolakan secara fisik,perasaan mudah tersinggung
yang meningkat,atau pola makan atau minum yang berubah. Tanyakan kepada
pasangan dengan hati-hati.
2. Duduklah
berdua dengannya di tempat yang pribadi,saling berhadapan dan jika memungkinkan
saling memegang tangan atau menyentuh untuk memfasilitasi ekspresi perasaan
yang lebih terbuka.
3. Dengarlah
dengan penuh perhatian jika ia mulai berbicara dan jangan menyelanya. Jangan
berkata “kamu tidak boleh berperasaan seperti itu”
4. Jangan
bereaksi berlebihan atau bersimpati dengan jalan menguasai
perasaannya.Bergabung dengan perasaannya dengan cara merasa sama terluka atau
sama marahnya justru akan memngecilkan hatinya.Berbagilah dengan lebih
positif,sebab melakukan yang lebih dari itu akan membantu.
Wallahualam
bisshawab.
Langganan:
Postingan (Atom)

