Sampai
kapan kita berlelah-lelah mengikuti kompetisi kehidupan?
Nyatanya sejak sebelum lahir di
dunia,kita sudah berkompetisi. Kalau anda pernah menyaksikan film Harun Yahya
tentang “penciptaan manusia”, betapa mengagumkannya satu sel sperma yang kelak
bernama “saya” sedang mengalami persaingan dengan jutaan sel sperma lainnya.
Berjibaku, adu cepat, tangkas melewati serangan zat asam demi tujuan membuahi
sel telur.
Sebuah drama heroisme tersaji dari jutaan kawan kompetisi itu. Semuanya memilih
maju dan menerima kenyataan mati daripada memutar badan mundur dari kompetisi.
Dan akhirnya kita juara. Kalau anda sekarang bisa menikmati dunia, ingatlah itu
adalah hasil dari keberanian kita konon saat berkompetisi di rahim ibu.
Begitu, boleh dibilang.
Hanya kematian yang menjadi garis
batas usianya kompetisi kehidupan. Selama tak nampak garis sakaratul maut itu, ruang kompetisi itu adalah ruang kita untuk
berkarya. Betapa kasihan, tak sedikit dari mereka yang menutup laga
pertandingan jauh sebelum mencapai gerbang kematian. Dalam hidup yang masih
segar bugar mereka mengeluh, menyumpahi teman kompetisi yang dianggap musuh,
menghadapi kekalahan di luar kewajaran, putus asa, lantas menyerah. Seolah-olah
dia manusia yang turun dari Surga kemarin lalu keget dengan tuntutan persaingan
di dunia.
Hei,
benarkah Anda baru menyadarinya???
Mengkhusyuki kecengengan bukanlah
sebuah prestasi. Beradekan lari masuk kamar, mengunci pintu, melemparkan badan
ke ranjang, nangis sejadi-jadinya, hanya ada di sinetron. Sedangakan kita sadar
hidup ini tak se-absurd film
sinetron.
Percayalah, hanya cerita-cerita
kebangkitanlah yang selalu mendapat tempat untuk diapresiasi dan dikenang.
Tak ada kunci yang benar-benar bisa
menjawab seseorang agar selalu menang dalam kompetisi. Juga tak ada jawaban
yang tepat untuk menjawab: Seberapa banyak kita boleh kalah dalam berkompetisi?
Ya, entahlah. Tapi nyatanya, Nabi Muhammad tak harus selalu menang dalam setiap
peperangan untuk membuat Islam menjadi berjaya. Dalam perang Uhud beliau kalah.
Thomas Alfa Edison, tak harus selalu berhasil dalam bereksperimen untuk membuat
filament karbon dari serat-serat bamboo itu tampak bercahaya. Atau pula, FC
Barcelona dan Manchester United tak harus selalu menang setiap pecan untuk
menjadi kampiun liga di negaranya. Betapa pun ada kekalahan, toh hasil akhirnya
adalah kemenangan.
Barangkali kunci jawaban yang tepat
adalah: HADAPI!!!
Keberanian berkompetisi itulah
kemmenangan sejati. Kemenangan melawan sisi malas diri sendiri, setidaknya. Maka
terimalah setiap kehidupan yang Allah anugerahkan kepada kita, lalu
hadapi….hadapi…dan hadapi…tantangan yang ada di dalamnya. (Dialah Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Penganpun, (QS. Al-Mulk : 2)
Kehidupan tak pernah menghukup kita
yang mungkin sudah babak belur menghadapi tantangan kompetisi. Percayalah,
kebabakbeluran itu tak lebih sebuah “mahar” untuk datangnya kehidupan yang
lebih baik di masa yang akan datang.
InsyaAllah… J
Tidak dapat diragukan lagi,bahwa sejak anak manusia yang
pertama-tama lahir ke dunia,telah ada dilakukan usaha-usaha pendidikan; manusia
telah berusaha mendidik anak-anaknya,kendatipun dengan cara yang sangat sederhana.
Demikian pula semenjak manusia saling bergaul,telah ada usaha-usaha dari orang
– orang yang lebih mampu dalam hal-haltertentu untuk mempengaruhi orang-orang
lain, teman bergaul mereka,untuk kepentingan kemajuan orang-orang bersangkutan
itu. Dari uraian ini jelaslah kiranya,bahwa masalah pendidikan adalah
masalahnya setiap orang dari dulu hingga sekarang,dan diwaktu-waktu yang akan
dating.
Adalah
merupakan keharusan bagi setiap pendidik yang bertanggung jawab,bahwa dia dalam
melaksanakan tugasnya harus berbuat dalam cara yang sesuai dengan “keadaan” si
anak didik. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesame
manusia,dengan tujuan untuk dapat memperlakukannya dengan lebih tepat. Karena
itu pengetahuan psikologis mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah
hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik; sehingga seharusnya adalah
kebutuhan setiap pendidik untuk memikili pengetahuan tentang psikologi
pendidikan. Dan kalau diingat bahwa setiap orang pada sesuatu saat tentu melakukan
perbuatan mendidik, maka pada hakekatnya psikologi pendidikan itu dibutuhkan
oleh setiap orang. Kenyataan bahwa pada dewasa ini hanya para pendidik
professional saja yang mempelajari psikologi pendidikan tidaklah dapat
dipandang sebagai hal yang memang sudah selayaknya.
Ruang lingkup
Psikologi
Kalau
sekiranya kita bertanya apakah psikologi pendidikan itu, lebih konkrit lagi,
psikologi pendidikan itu membicarakan apa saja, maka akan kita dapatkan jawaban
yang bermacam-macam sekali. Demikianlah misalnya kalau kita buka buku-buku yang
berjudul Psikologi Pendidikan yang ditulis oleh penulis yang berbeda-beda,maka
akan kita dapatkan pengupasan soal-soal yang berlain-lainan pula.
Samuel
Smith yang telah mengadakan study mengenai 18 buah buku-buku tentang psikologi
pendidikan yang dipandang baik (standard textbooks) mendapatkan data yang
menguatkan pernyataan di atas itu.
Smith
(Pintneret. Al, 1953, p. ix) mengolong-golongkan persoalan yang dikupas oleh
ahli-ahli yang diselidikinya itu menjadi 16 macam,yaitu :
- The science of educational psychology
- Heredity
- Physicl structure
- Growth
- Behavior processes
- Nature and scope of learning
- Factor that condition learning
- Law and theories of learning
- Measurement : Basic principles and definitions
- Transfer of training subyect matter
- Practical aspect of measurement
- Element of statistics
- Mental hygiene
- Character education
- Psychology of secondary school subyect
- Psychology of elementary school subyect
Keenam belas pokok bahasan tersebut
dikupas oleh hamper semua ahli yang diselidiki itu; walaupun proporsi yang
diberikan dalam pengupasan itu tidak sama.Untuk memberi gambaran mengenai
proporsi itu, yang sekaligus juga memberikan gambaran mengenai mengenai
kedudukan masing- msaing pokok bahasan itu, di bawah ini dikemukakan table yang
memuat banyaknya bab-bab yang mengupas masing-masing pokok bahasan itu. (Lihat
table 1)
Pada table 1 tersebut ditunjukkan
bahwa masalah yang sentral dalam psikologi pendidikan itu adalah masalah
belajar.Hal yang demikian ini sebenarnya tidak mengherankan, karena sebenarnya
belajar ( dan mengajar ) adalah tindak pelaksanaan dalam usaha pendidikan. Di
dalam usaha mendidik anak-anak didik belajar dan sipendidik mengajar sesuatu
kepada para anak didik itu.
Bagaimanakah seharusnya kita menghadapi soal ini ??
Seperti telah disinggung dimuka,kita harus bertolak dari
proses pendidikan, yaitu proses di mana si pendidik dengan sengaja dan penuh
tanggung jawab memberikan pengaruhnya kepada anak didik, demi kebahagiaan anak
didik. Proses ini terjadi dalam situasi yang menyangkut banyak sekali hal,
seprti pergaulan antara pendidik dan anak didik,tujuan yang akan dicapai,materi
yang diberikan dalam prose situ, sarana yang dipakai, lingkungan yang menjadi
ajang proses itu, dan sebagainya. Psikologi Pendidikan berusaha menjadikan
kejian tentang factor-faktor psikologis yang berperan dalam proses pendidikan
itu.
TABEL 1
POKOK-POKOK BAHASAN
DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BANYAKNYA BAB-BAB YANG MENGUPAS MASING-MASING
POKOK BAHASAN
( Berdasarkan data
Samuel Smith )

No. POKOK BAHASAN Banyaknya bab yang mengupasnya

1. The science of
educational psychology 16
2. Heredity 20
3. Physicl
structure 22
4. Growth 38
5. Behavior
processes 28
6. Nature and
scope of learning 42
7. Factor that
condition learning 61
8. Law and
theories of learning 24
9. Measurement
: Basic principles and definitions 16
10. Transfer of
training subyect matter 30
11. Practical
aspect of measurement 35
12. Element of
statistics 7
13. Mental
hygiene 44
14. Character
education 35
15. Psychology of
secondary school subyect 22
16. Psychology of
elementary school subyect

Di dalam
proses pendidikan ini persoalan psikologis apa sajakah yang relevan? Pada
hakekatnya inti persoalan psikologis terletak pada anak didik,sebab pendidikan
adalah perlakuan terhadap anak didik dan secara psikologis perlakuan ini harus
selaras mungkin dengan keadaan snak didik. Karena itu problem yang diajukan di
atas itu dapat dijawab dengan menunjuk kepada sifat-sifat psikologis yang kita
perlukan. Selain itu masih terdapat beberapa masalah khusus yang juga perlu
penyorotan secara psikologis, seperti soal pendidikan orang dewasa, kesehatan
mental serta bimbingan dan konseling, materi yang dipakai , evaluasi hasil
pendidikan, dan sebagainya.
SKETSA
AKHLAK NABI
Judul : Semulia Akhlak Nabi
Pengarang :
Aqwam
Harga buku :
Rp.37.000
Pemesanan :
Redaksi Nurul Hayat
031.8783344 (ongkir Rp.3.000 - 4.000)
Tebal :
280 halaman
Sampul Depan : Soft cover
Dimensi :
15 x 23 cm
Dalam seminar,seorang
tokoh pernah berkata “Jangan samakan Islam dengan umatnya! Islam itu akan
selalu mulia,tetapi tidak sedemikian dengan umatnya.” Hal ini tentunya menjadi
satu kenyataan yang paradoks,aneh dan mengejutkan.Betapa tidak,dalam sebuah
catatan statistik dikatakan bahwa,para pelaku kriminalitas sebagian besarnya di
negri ini adalah orang yang beragama Islam,belum lagi tingkah laku kaum
muslimin dewasa ini yang semakin lama semakin terlepas dari sifat cirri khas
orang-orang yang mendapatkan risalah Islam.
Pun demikian,pada masa lalu,banyak orang
memeluk Islam karena terpesona dengan akhlak seorang muslim. Sebut saja
Suraqah,pemuda Quraisy yang begitu bersemangat membunuh Nabi. Ia masuk Islam
setelah dimaafkan Nabi -padahal saat itu Nabi berada diatas angina untuk ganti
membunuhnya-
Kisah tentang seorang Yahudi –yang
dimenangkan oleh pengadilan atas Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam kasus
sengketa baju besi- pun menghiasi ketinggian akhlak Islam. Bahkan sejarah
masuknya Islam di Asia diawali keterkaitan penduduk setempat terhadap kejujuran
para pedagang muslim yang dating berniaga.
Namun, sejarah emas akhlak muslim tersebut
kini seolah pudar.. Akhlak sebagian besar kaum muslim semakin hari semakin
memprihatinkan. Betapa banyak orang bertitel haji,namun tingkah lakunya tak
terpuji. Demikian pula dengan gaya hidup pemuda pemudi Islam,yang nyaris tak
ada bedanya dengan kebudayaan Barat. Seolah menjadi bagian dari keprihatinan
tersebut, buku ini hadir. Di dalamnya, penulis memaparkan sendi-sendi akhlak
yang menjadi keistimewaan ajaran Islam disbanding aagama manapun.Anda akan
dituntun untuk meniti sendi-sendi tersebut, disertai contoh-contoh aplikatif
dari kehidupan genarasi Islam pertama, dan tips-tips untuk mempraktekannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan menghadirkan bahasa yang akrab dan
komunikatif, Penulis berhasil menghadirkan sketsa akhlak,yang sebenarnya
menggambarkan betapa besar kasih-sayang tersebut,sampai-sampai iblis pun
menintip dengan iri kerena ingin mendapatkannya.
Tiba-tiba
tak ada angina tak ada hujan,Aisyah mengganti tema pembicaraan.Sang istri
kecintaan Nabi bertanya,”duhai Rasul” dengan nada menggoda,”andaikata engakau
menjadi penggembala,kemudian di depan sana ada dua lembah,lembah yang pertama
ada banyak pohon tetapi sudah menjadi bekas dimakan hewan-hewan gembalaan milik
orang lain,sedangkan lembah yang kedua masih utuh belum ada satupun penggembala
yang dating kesana,engkau memilih yang mana?”
Nabi
tersenyum.”Jelasa aku akan memilih yang kedua,Aisy”ucap beliau,tak kalah
menggoda.Nabi mengerti arah pembicaraan sang Humaira.Kedua lembah itu adalah
sebuah metafora.Lembah pertama adalah para istri nabi yang statusnya adalah
janda.Sedangkan lembah yang kedua adalah Aisyah yang beliau nikahi dalam
keadaan masih gadis.
Namun
pilihan nabi bukan berarti menafikan para istri beliau yang lainnya.Beliau
tetap selalu adil kepada semua istrinya.Ini hanya masalah kecerdasan
emosional.Melihat maksud dibalik kata,kemudian menerjemahkannya dalam respon yang
tak merusak suasana.Beliau menyenangkan Aisyah.Bahasa dibalik kata.Amatlah
sering dilontarkan oleh kaum hawa.Tabiat kelembutan dan penuh perasaan,kadang
mereka bertutur tidak persis sama dengan apa yang dituturkan.Berusaha menjaga
tutur kata agar tak terlesan vulgar.Daripada laki-laki,mereka lebih sedikit
berkata secara langsung,”belikan aku sesuatu”,”cintai akau”,”haragi aku”atau
“ini malam jumat!”.
Bahasa
dibalik kata.Kalau tak cerdas memahaminya,bisa-bisa Anda dinilai sebagai
pribadi yang egois dan atak mau tahu.Tahu-tahu kita bingung ketika tiba-tiba
istri atau suami tiba-tiba ngambek,enggan diajak bicara.Dan menjadi makin
parah,ketika suami atau istri yang justru merasa disakiti.Selanjutnya dengan
emosi justru memarahi sikap diam pasangannya.
Kalu
da istilah “wanita ingin dimengerti”,berarti apakah ada yang banyak laki-laki
yang kesulitan mengerti wanita.Sebenarnya tidak sulit,hanya butuh kepekaan dan
kesediaan untuk memahami.Pengalaman di lapangan,sebagian besar kita punya
kemampuan merasakan apa ayng diinginkan pasanagan.Hatta keinginan untuk tak
terungkap secara verbal.
Suatu
ketika seorang istri tiba-tiba dating dan menunjukkan barang yang baru saja
dibeli tanpa pemberitahuan pada suami.Dia tunjukkan barang itu pada suami lalu
berkata,”Lihat barang ini urah sekali,aku dapat diskon”.Bisa saja suami melihat
barang tersebut tetap mahal dan mungkin saja tidak terlalu penting. Suami
sering tidak memahami maksud perkataan “ini barang murah” dari istri,sehingga
secara vulgar dia akan berlogika dan menjawab,:hah,segitu dibilang murah,ah,ya
mahal lah”. Duh, istri bakal kecewa dengan perkataan tersebut.
Sedang
bagi suami yang mau mengerti akan berbeda respon.Dia melihat pernyataan “lihat
barang ini murah” sebenarnya wujud kekhawatiran jangan-jangan suami tak suka
dengan pembelian barang tersebut. Bahasa dibalik kata itu mungkin bermaksud
menyatakan “aku tahu kamu tidak setuju”. Nah,suami yang bijaksana setidaknya
bisa menghargai istri yang “bersedia” khawatir.dan bisa memberi tanggapan yang
lebih solusif. Itu sedikit contoh,dan selain itu banyak lagi.Terkadang juga
ketika menginginkan sesuatu,pesan hanya disampaikan melalui perilaku.Yang ini
paling sering dalam urusan hubungan intim.Wanita,sepertinya “anti” untuk
memulai pembicaraan terhadap kebutuhan hubungan intim.Maka kita harus memahami
setiap “gelagat” itu.Sekali dua kali tidak peka mungkin tidak apa-apa. Tapi
bila berkali-kali akan menimbulkan masalah yang tak sepele. Bagi para
istri,biasakanlah untuk berterus terang. Kesalahpahaman suami menagkap pesan
justru akan merugikan diri sendiri.Misalkan,ada satu kalimat perintah yang
mungkin harus mulai dig anti karena tidak nyaman didengarkan. Sebagian istri
ketika meminta suaminya untuk melakukan sesuatu dia akan berkata dengan kalimat
Tanya,”kamu bisa pasang lampu itu?”, “apakah kamu bisa begini?”
Pertanyaan
itu tidak memberdayakan. Di telinga terkesan seperti sebuah kalimat
tantangan,Hampir-hampir menyerempet kesan meremehkan. Memang,maksud istri
menanyakan itu untuk mengkonfirmasi kesediaan. Tapi laki-laki lebih suka diakui
kemampuannya. Maka akan lebih membanggakan bagi mereka kalau kita
berkata,”tolong pasang lampu itu”, “tolong aku dibantu ini”. Sepertinya lebih
heroic.Dalam kalimat tersebut ada pengakuan bahwa saya (perempuan) lemah dan
kamu kuat”. Dan ini disukai oleh lelaki.
Kita
lihat sisi positifnya saja. Kebiasaan istri yang seperti itu sebenarnya menjadi
kesempatan bagi suami untuk mendapatkan apresiasi sebagai suami yang
pengertian. Kalau semua urusan disampaikan secara verbal dan kita
memenuhinya,itu sudah biasa. Yang luar biasa,bila kita bisa menagkap pesan
“tersembunyi” sang istri atau suami,kemudian berusaha mewujudkannya,akan
menjadi jalan semakin rekatnya kasih saying suami-istri. InsyaAllah
Suatu
hari Umar bin Khathab r.a. menemui Rasulullah SAW di kamar beliau. Umar
mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirannya
telah lapuk. Jejak tikar itu membekas di belikat beliau. Sebuah bantal yang
keras membekas di bawah kepala beliau dan jalur kulit samakan membekas di
kepala beliau. Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu
gantang. Di bawah dinding terdapat qarzh
(semacam tumbuhan untuk menyamak kulit).
Melihat kebersahajaan itu,air mata
Umar bin Khathab r.a. meleleh.Ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan
kondisi pimpinan tertinggi umat Islam itu. Rasulullah SAW yang melihat air mata
Umar r.a. yang berjatuhan lalu bertanya “Apa yang membuatmu
menangis,Ibnu Khathab?”
Umar r.a. menjawab dengan kata-kata
yang bercampur aduk dengan air mata dan perasaannya terbakar, “Wahai
Nabi Allah,bagaimana aku tidak menangis,sedangkan tikar ini membekas belikat
Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan Kaisar
duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru bersulam sutera,dan mereka
dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai,sementara Anda adalah Nabi dan
manusia pilihan Allah!”
Lalu Rasulullah SAW menjawab dengan
senyum tersungging di bibir beliau,”Wahai Ibnu Khathab, kebaikan
mereka dipercepat datangnya,dan kebaikan itu pasti terputus.Sementara kita
adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela
jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”
Umar menjawab.”Aku
rela.” (HR.Hakim,Ibnu Hibban dan Admad). Dalam riwayat
lain disebutkan:’Umar berkata,”Wahai rasulullah,sebaiknya
Anda memakai tikar yang lebih lembut dari tikar ini.”
Lalu, Rasulullah menjawab dengan
merendah diri,”Apa urusanku
dengan dunia?
Perumpamaan diriku dengan dunia itu
tidaklain seperti orang yang berkendara di suatu hari di musim panas,lalu ia
berteduh di bawah sebuah pohon,kemudian ia pergi dan meninggalkannya.” (HR.Tirmidzi)
Seorang anak
bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat. “Nenek lagi nulis
apa?”
Mendengar pertanyaan si cucu,sang
nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya nenek sedang
menulis tentang kamu,tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu
pensil yang nenek pakai.Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu
besar nanti.”Ujar nenek.mendengar jawaban ini,si cucu kemudian melihat
pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada
yang istimewa dari pensil yang neneknya pakai.
“Tapi nenek,sepertinya pensil ini sama
saja dengan pensil yang lainnya.” Ujar si cucu.Sang nenek kemudian
menjawab,”Itu semua tergantung bagaimana kamu melihatnya.Pensil ini mempunyai 5
keistimewaan yang bisa membuatmu tenang menjalani hidup,dengan syarat kamu
selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.”Si nenek kemudian
menjelaskan 5 keistimewaan itu.
“Pertama,pensil
mengingatkan kalau kamu bisa berbuat banyak hal dalam hidup ini,layaknya sebuah
pensil ketika menulis,kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu
membimbing langkah kamu dalam hidup ini.Dialah Tuhan yang akan selalu
membimbing kita.”
“Keistimewaan
kedua,dalam proses menulis,nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan
menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek.Rautan ini pasti akan
membuat si pensil menderita.Tapi setelah proses meraut selesai,si pensil akan
mendapatkan ketajamannya kembali.Begitu juga denganmu,dalam hidup ini kamu
harus berani menerima penderitaan dan kesusahan,karena dengan penderitaandan
kesusahan inilah jika kita hadapi dengan bijaksana akan membuatmu menjadi orang
yang lebih baik.”
“Keistimewaan
ketiga,pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan
penghapus,untuk memperbaiki kata-kata yang salah.Oleh karena itu memperbaiki
kesalahan kita dalam hidup ini,bukanlah hal yang jelek.Itu bisa membantu kita
untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
“Keistimewaan
keempat,bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian
luarnya,melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil.Oleh sebab
itu,selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal yang ada di dalam dirimu.Itulah
bagian yang terpenting.”
“Dan
keistimewaan yang kelima,Sebuah pensil selalu meninggalkan tanda atau
goresan.Seperti juga kamu,kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam
hidup ini akan meninggalkan kesan.Oleh karena itu selalulah berhati-hati dan
sadar terhadap semua tindakan.
Selama ini kita mengenal sifat munafik adalah seperti yang
disabdakan Nabi berikut ini : Dari Abdullah bin Amru RA., Nabi SAW bersabda: “Empat perangai apabila berada pada seseorang
akan menjadikannya munafik tulen, dan apabila salah satunya berada pada
seseorang,akan menjadikannya mempunyai salah satu sifat orang munafik,sampai
meninggalkannya.Yaitu: Apabila diberi amanat ia khianat,apabila berkata ia
dusta,apabila berjanji ia ingkar dan apabila bertikai ia curang.” (HR.
Bukhari-Muslim)
Islam melarang
kita berlebihan dalam melakukan sesuatu. Termasuk kita tidak boleh
berlebih-lebihan menghakimi seseorang sebagai seorang munafik. Menuduh
mereka,lalu menyebutnya sebagai ahli Neraka.Seseorang melakukan salah satu
perbuatan: dusta,khianant,dan ingkar janji,yang itu dilakukan karena situasi
tertentu,bukan menjadi tabiat atau kebiasaan,kata Nabi ia telah “memiliki salah
satu sifat orang munafik”. Sedangkan orang yang sering melakukan dusta,khianat
dan ingkar janji,maka ia disebut munafik tulen. Keduanya berbeda. Yang pertama
sedang mensifati satu “objek”. Yang kedua,”objek” itu sendiri.
Supaya mudah
dipahami,mungkin perbedaannya bisa dicontohkan dengan dua kalimat berikut : Pertama, kalimat:”dia orang jawa”.Kedua, kalimat: “dia berperilaku seperti
orang jawa”. Kalimat yang pertama menjelaskan,orang itu Asli orang
jawa,perilakunya pasti perilaku orang jawa. Sedangakan yang kedua,orang itu
mirip orang jawa.Tapi belum tentu orang jawa.hanya saja,perilakunya sudah
seperti orang jawa.kalau dia tidak merubah perilakunya,maka ia akan dianggap
orang jawa.Tapi kalau merubah,maka dia tidak akan lagi disebut sebagai orang
jawa.
Selanjutnya
dalam hal tujuan bermunafik,para ulama mengatakan,munafik memiliki tingkatan
berbeda-beda.Apabila kemunafikan itu dalam I’tikat
iman,seperti munafik Madinah yang membenci Nabi,maka dia disebut munafik I’tiqadi (keyakinan). Dan apabila dalam
hal lain,dinamakan munafik amaly
(perbuatan),baik yang berupa kegiatan mengerjakan atau meninggalkan.Imam Nawawi
dalam kitabnya Syarah Sahih Muslim,menggatakan : “Makna (pengertian) yang benar
dan yang tepet mengennai hadits ini (hadits yang disebut di atas) adalah
sifat-sifat tersebut merupakan sifat orang munafik,pelakunya mirip orang
munafik,dan berperangai seperti perangainya mereka.karena munafik adalah
menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang disembunyikan.
Pengertian
ini ada pada orang yang memiliki
sifat-sifat tersebut.dalam hal ini kemunafikannya hanya kepada oaring yang
berbicara dengannya,yang diberi janji,yang mempercayainya,dan yang bertikai
dengannya,bukan munafik yang berarti menampakkan keislaman secara lahir, dan
dalam batin menyembunyikan kekafiran.”
Demikian ulama
memberikan penjelasan tentang sifat munafik.Agar kita tidak jatuh pada sifat
berlebihan dalam menghukumi sesuatu. Khuususnya dalam menilai orang lain.
Adapun untuk menilai diri sendiri,justru sebaiknya kita mengambil langkah
berhati-hati. Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar RA. Bagaimana sahabat nabi
ini setiap saat berada dalam kekhawatiran terjerumus dalam kemunafikan.Beliau
yang Alim,Huzaifah bin al-Yaman: “Huzaih,beritahu aku,mungkin padaku ada
sifat-sifat munafik yang aku tidak sadar”.
Siapakah
Umar?siapa kita?, kalau Umar senantiasa khawatir perilakunya membuat beliau
tercacat sebagai munafik,layakkah kita merasa bebas dari penyakit ini?
Langganan:
Postingan (Atom)