Browse » Home » Archives for Juni 2013
Sampai
kapan kita berlelah-lelah mengikuti kompetisi kehidupan?
Nyatanya sejak sebelum lahir di
dunia,kita sudah berkompetisi. Kalau anda pernah menyaksikan film Harun Yahya
tentang “penciptaan manusia”, betapa mengagumkannya satu sel sperma yang kelak
bernama “saya” sedang mengalami persaingan dengan jutaan sel sperma lainnya.
Berjibaku, adu cepat, tangkas melewati serangan zat asam demi tujuan membuahi
sel telur.
Sebuah drama heroisme tersaji dari jutaan kawan kompetisi itu. Semuanya memilih
maju dan menerima kenyataan mati daripada memutar badan mundur dari kompetisi.
Dan akhirnya kita juara. Kalau anda sekarang bisa menikmati dunia, ingatlah itu
adalah hasil dari keberanian kita konon saat berkompetisi di rahim ibu.
Begitu, boleh dibilang.
Hanya kematian yang menjadi garis
batas usianya kompetisi kehidupan. Selama tak nampak garis sakaratul maut itu, ruang kompetisi itu adalah ruang kita untuk
berkarya. Betapa kasihan, tak sedikit dari mereka yang menutup laga
pertandingan jauh sebelum mencapai gerbang kematian. Dalam hidup yang masih
segar bugar mereka mengeluh, menyumpahi teman kompetisi yang dianggap musuh,
menghadapi kekalahan di luar kewajaran, putus asa, lantas menyerah. Seolah-olah
dia manusia yang turun dari Surga kemarin lalu keget dengan tuntutan persaingan
di dunia.
Hei,
benarkah Anda baru menyadarinya???
Mengkhusyuki kecengengan bukanlah
sebuah prestasi. Beradekan lari masuk kamar, mengunci pintu, melemparkan badan
ke ranjang, nangis sejadi-jadinya, hanya ada di sinetron. Sedangakan kita sadar
hidup ini tak se-absurd film
sinetron.
Percayalah, hanya cerita-cerita
kebangkitanlah yang selalu mendapat tempat untuk diapresiasi dan dikenang.
Tak ada kunci yang benar-benar bisa
menjawab seseorang agar selalu menang dalam kompetisi. Juga tak ada jawaban
yang tepat untuk menjawab: Seberapa banyak kita boleh kalah dalam berkompetisi?
Ya, entahlah. Tapi nyatanya, Nabi Muhammad tak harus selalu menang dalam setiap
peperangan untuk membuat Islam menjadi berjaya. Dalam perang Uhud beliau kalah.
Thomas Alfa Edison, tak harus selalu berhasil dalam bereksperimen untuk membuat
filament karbon dari serat-serat bamboo itu tampak bercahaya. Atau pula, FC
Barcelona dan Manchester United tak harus selalu menang setiap pecan untuk
menjadi kampiun liga di negaranya. Betapa pun ada kekalahan, toh hasil akhirnya
adalah kemenangan.
Barangkali kunci jawaban yang tepat
adalah: HADAPI!!!
Keberanian berkompetisi itulah
kemmenangan sejati. Kemenangan melawan sisi malas diri sendiri, setidaknya. Maka
terimalah setiap kehidupan yang Allah anugerahkan kepada kita, lalu
hadapi….hadapi…dan hadapi…tantangan yang ada di dalamnya. (Dialah Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Penganpun, (QS. Al-Mulk : 2)
Kehidupan tak pernah menghukup kita
yang mungkin sudah babak belur menghadapi tantangan kompetisi. Percayalah,
kebabakbeluran itu tak lebih sebuah “mahar” untuk datangnya kehidupan yang
lebih baik di masa yang akan datang.
InsyaAllah… J
Langganan:
Postingan (Atom)